ENTAHLAH….

Kau tahu, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Semua sudah diperhitungkan dengan baik. Semua yang telah kita lalui pasti ada alasan didalamnya. Meskipun terkadang kita sebagai manusia sangat sulit menyadari alasan tersebut. Tapi, mungkin dengan sedikit memutar sudut pandang kita tentang sesuatu. Maka kita akan menemukan alasan yang tersembunyi. Begitupun dengan kebahagiaan. Aku pernah membaca sebuah tulisan seorang teman. Ia mengatakan bahwa “tak semua kebaikan menghasilkan kebahagiaan, dan tak semua air mata menimbulkan kepedihan”. Mungkin memang saat ini air mata itu sedang menemani kita. Namun, apakah kesedihan selalu bersama air mata? tidak!

Kau tahu, kesedihan itu bukanlah kehancuran buatmu. Ia hanyalah sebuah tahap untuk proses pembelajaranmu kali ini. Mungkin memang saat ini kau sedang diletakan pada sebuah mesin penghancur yang meleburkan seluruh bagian hidupmu. Tapi, tahukah kau untuk apa kau dihancurkan seperti ini? Yaa,, untuk dibentuk kembali, menjad lebih baik pastinya. Seperti besi bekas yang dikumpulkan oleh pemulung. Sebelum ia dijadikan sebuah barang baru, ia harus dilebur terlebih dahulu. Hingga cair, meleleh, dengan suhu panas yang tak main-main. Namun, setelah itu, justru akan memudahkannya untuk dibentuk menjadi sebuah produk baru yang menarik.

Mungkin sedikit banyak hidup berjalan seperti itu. Sebelum kita dijadikan sebagai seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Maka kita harus dihancurkan terlebuh dahulu. Hingga menjadikan kita lebih mudah menerima masa depan yang lebih baik pastinya. Dan itu semua bukan kebetulan semata. Allah-lah yang mengatur. Mulai dari setiap jengkal kakimu melangkah hingga semuanya terlalui. Itu semua telah diatur dengan sebaik-baiknya. Maka dari itu, masihkan kau mengatakan bahwa hidup ini tidk adil? Ayolah sedikit pejamkan mata kita dan berpikir sejenak. Sudahkan keadila itu kau dapat? atau kau masih mencarinya, atau malah kau masih menyalahkan bahwa hidup ini tidak adil? Kalau dipikir-pikir sepertinya manusia sendiri yang membuat hidup ini tak adil. Manusianya-lah yang menghalangi keadilan itu untuk mendekat. Entah memang naluri manusia untuk selalu menyalahkan ketimbang berpikir sejenak, atau memang kurangnya keberanian untuk menemukan keadilan itu. Entahlah,,, aku juga tak tahu.

Iklan
Categories: Opini | Tinggalkan komentar

BOM MOTIVASI

Hidup itu absurd, aneh, misteri. Banyak sekali yang tidak nyambung. Terkadang seperti ini, kadang juga seperti itu. Semuanya cukup melelahkan untuk dipahami. Apalagi urusan yang namanya cinta. Cinta ini lebih aneh, aneh sekali. Tekadang cinta juga bisa mengubah seseorang. Dari yang penjahat kelas kakap, bakal jadi malaikat kalau udah ketemu dengan cinta. Sebaliknya, orang seperti malaikat bakal berubah jadi monster juga karena cinta.

Yaa, sebernanya bukan hanya kesalahan cinta yang mengubah seseorang. Melainkan hasil dari cinta itulah yang merubah seseorang hingga 180 derajat. Apalagi kalau bukan kecewa. Ketika seorang manusia yang sebenarnya baik, sangat baik. Hingga dia sendiri tak tahu kebaikan apa yang dilakukannya demi sebuah cinta. Namun seseorang tersebut berubah menjadi seorang mirip monster. Hati penuh dengan dendam, kebencian, kemarahan karena sebuah kekecewaan. Kekecewaan itu bagaikan penyakit yang ganas, menyerang seluruh bagian tubuh terutama perasaan dengan cepat. Tanpa perlu menunggu hari, bulan, apalagi tahun. Begitu hebatnya akibat dari sebuah kekecewaan.

Namun, tak semua kekecewaan akan merusak hidup seseorang. Terkadang justru kekecewaanlah yang memberikan motivasi paling besar kepada seseorang untuk berubah. Yaa berubah, berubah menjadi sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak pernah dibayangkan oleh dia yang membuat kecewa apalagi dia yang telah dikecewakan. Tapi semua itu tak mudah. Butuh proses yang sangat panjang untuk mencapai sesuatu yang luar biasa tersebut. Butuh sebuah perjuangan yang sangat besar, terutama untuk menguasai diri sendiri.

Aku pernah membaca sebuah kalimat. “Kunci yang utama untuk menjadi seseorang yang luar biasa adalah dengan menguasa diri sendiri”. Kekecewaan akan menyerang seluruh tubuh, terutama mempengaruhi logika dan perasaan. Tapi ketika dia bisa mengendalikan kekecewaan itu, jadilah ia bom motivasi yang sangat dasyat. Namun jika tidak, maka tunggulah kekecewaan tersebut meledak dan menghancurkan hidupnya sendiri.

Jadi, jangan pernah putus asa atas sebuah kekecewaan. Jangan pernah marah ataupun merasa sangat bodoh ketika orang lain telah mengecewakanmu. Tak ada yang salah dengan sebuah kekecewaan. Jika kamu tak pernah merasakan kecewa, maka kamu tak akan pernah merasakan yang namanya ketulusan, kesabaran, kerelaan untuk menerima semua. Namun, jangan juga berbangga diri mejadi orang yang bahagia diatas kekecewaan orang lain. Apalagi mendapatkan bahagia dari hasil mengecewakan orang lain. Karma dan hukum alam tetap berlaku. Tak pernah hilang, karena kamu hidup di bumi ini, di alam ini. Tunggu saja, entah cepat atau lambat, semuanya akan kemabali. Kekecewaan dan air mata orang lain akan kamu dapatkan mungkin lebih besar dari itu. Entah dari orang yang kamu kecewakan ataupun orang lain. Sama halnya dengan sebuah kebaikan. Manusia akan mendapatkan kembali kebaikan yang ia lakukan. Entah dari orang yang mendapatkan kebaikan itu, ataupun orang lain.

Categories: Opini | Tinggalkan komentar

AKU, KAU, KITA

Benar pepatah mengatakan, “Janji adalah hutang”. Dan ketika janji itu telah terpenuhi, hutang pun sudah terlunasi. Yaa, janjiku telah terlunasi untuk saat ini. Sebenarnya ini bukan sebuah janji yang besar, ataupun janji pada orang lain yang sangat penting. Melainkan ini janji pada diri sendiri. Sungguh sulit untuk menepati janji terhadap diri sendiri, ketimbang janji kepada orang lain. Karena ketika kita berbohong, pun itu telah berbohong pada dri sendiri. Dan kebohongan tersebut, diri sendiri pun juga tahu. Semacam bentuk kemunafikkan terhadap diri sendiri. Dan itu banyak terjadi kukira, tidak hanya padaku saja. Mungkin orang lain diluar sana yang hampir dikenal tidak pernah berbohong. Jangan-jangan ia lebih sering membohongi dirinya sendiri. Tak pernah salah ketika orang bijak mengatakan bahwa, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Tak bisa dipungkiri kalimat itu memiliki tingkat kebenaran hampir 90%, mungkin juga 100%. Ketika seseorang sudah bisa mengasai diri sendiri. Tak akan pernah ada kata sulit untuknnya. Semua akan terasa mudah. Tapi manusia, apa mau dikata, kemungkinan untuk berhasil menaklukkan diri sendiri saja tak sebanding dengan keyakinan diri terhadap dirinya. Dan akhirnya, 1:1000 untuk seseorang yang dapat melakukan hal itu dengan sempurna. Dan sayangnya, aku belum beruntuk untuk menjadi satu diantara seribu orang tersebut. Aku masih terlalu sulit untuk jujur terhadap diri sendiri. Mengingkari yang ada dalam hati, dengan yang ada di dalam otak. Ahh,, memuakkan sekali lagi untuk memikirkan semacam ini. Sungguh, manusia makluk yang membingungkan. Tak bisa dimengerti hanya dengan pemikiran dan logika. Apalagi hanya dengan perasaan saja. Sehingga, cukup untuk memahami diri sendiri untuk saat ini. Agar aku, kau, dan kita semua menjadi salah satu dari sekian ribu orang yang mampu menguasai diri sendiri.

Categories: Opini | Tinggalkan komentar

MUNAFIK BERCECERAN

Kau tahu, semakin banyak saja orang munafik di dunia ini. Sepertinya, prinsip yang ku junjung tinggi tentang manusia agaknya harus sedikit diturunkan. Dulu aku selalu menganggap manusia dilahirkan dengan hati baik, sejahat apapun dia, tetap dia akan baik. Tapi kali ini, pendapatku sepertinya salah. Kebalikan dari semua yang ku pikirkan. Bahwa manusia tak pernah benar-benar menjadi baik. Mengerikan, membuat dunia ini semakin terlihat kejam.

Categories: Opini | Tinggalkan komentar

TAKDIR??

image

By WU Pict

Kau tahu, hidup itu memang aneh. Sampai saat ini, usiaku yang sudah berkepala 2, tetap saja tak mengerti sebenarnya untuk apa aku hidup. Meskipun sejak aku duduk di bangku sekolah dasar sampai bangku kuliah selalu diajarkan untuk menuliskan mimpiku. Tapi semua itu hanya sebatas tulisan di dinding saja. Entah hanya aku sendiri yang merasakan, atau orang lain juga merasakan.
Terkadang aku juga merasa iri ketika melihat teman-temanku sudah menemukan siapa dirinya. Saat ini, ketika aku sudah mengenal dunia perkuliahan. Aku menemukan banyak sekali macam-macam jenis orang. Beberapa kulihat sudah menemukan siapa dia sebenarnya. Ada yang sudah pakem hidup di dunia design, ada yang sudah menjadi ahli marketing communication, ada yang menjadi penulis, calon sutradara, fotografer, dan entah masih banyak lagi.
Lalu, bagaimana dengan diriku? ahh,, ketika membicarakan hal semacam ini pasti tak ada habisnya, dan terkadang membuat muak. Entah karena aku yang tak mau berpikir, atau memang sudah lelah untuk memikirkan hal semacam ini. Mungkin ketika topik ini berlanjut, pasti ujungnya akan bicara soal takdir.
Takdir? ya takdir. Tapi, sebenarya seperti apa takdir itu? aku masih sangat tidak memahaminya. Kalau diibaratkan dengan mata kuliah, bisa dibilang mirip  mata kuliah Sosiologi Komunikasi di jurusanku. Belajar satu semester, tapi sampai semester baru datang. Aku tak mendapati ilmunya dalam otak ini. Ahh,, membingungkan bukan. Takdir? banyak yang mengatakan takdir setiap manusia sudah tertulis sejak manusia belum terlahir ke dunia. Itu berarti dalam takdirku sudah tertulis bahwa aku saat ini  memang harus duduk di depan sebuah laptop dan menulis entah apa ini isi otak yang sedikit mengganggu. Lalu entah takdirku selanjutnya seperti apa. Who knows?
Lalu, bagaimana dengan takdir mereka yang hidup di jalanan, menjadi pengemis dan pengamen, atau mungkin koruptor dan presiden. Mereka mungkin sudah memiliki takdir itu sejak lahir. Itu berarti sia-sia saja mereka yang berusaha mati-matian untuk mengubah nasib jika takdir memang sudah ditentukan. Membingungkan sekali nampaknya. Mungkin setelah ini, ada seseorang yang mau memberikan sedikit pencerahan untukku. Setidaknya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan pertama tadi. “Apa sebenarnya alasan seseorang, lebih tepatnya diriku hidup di dunia ini?” (WU)

Categories: Opini | Tinggalkan komentar

SELAMAT KEPALA DUA, KAWAN!!

image

Yaaa,, sekarang kau sudah seumuran denganku, 20 tahun, yeey hahaha. Itu artinya kau sudah harus melepas “Masa Remaja”-mu kalau kata orang-orang (kataku sih sebenarnya,haha). Selamat ber-kepala dua teman, mungkin sedikit alay untuk mengucapkan selamat ulang tahun saja harus membuat tulisan sepanjang ini, tapi karena kau temanku jadi tak apalah. hahaha
SELAMAT ULANG TAHUN WACINGPAY (ADIEN GUNARTA). Terimakasih selama beberapa tahun ini sudah menjadi sahabat buat saya. Ahh, sahabat? aku tidak terlalu yakin bahwa kau sahabatku. Tapi apapun itu, kau sudah menjadi teman terbaik . Meskipun terkadang kau menjadi orang yang paling menyebalkan yang pernah ada di hadapanku (hmm..damn!!). Kau selalu mengatakan hal-hal yang biasa kau sebut dengan “Critics on Windi”,, haahaha begitulah. Tapi, karena sekarang hari spesial buat dirimu, aku akan sedikit mendongeng tentang seorang Adien Gunarta menurut Windi.
Lets see….
Adien Gunarta, teman yang kesekian (entah lupa keberapa, yang pasti antara 6-10) yang saya kenal di jurusan ilmu komunikasi. Dulu tak pernah terpikirkan bahwa dia bakal menjadi temanku seperti sekarang. Tapi, ya sekarang ini adanya, hari ini selain ucapan selamat, ucapan terima kasih juga kuberikan padanya.
Terima kasih sudah menjadi sahabat baik sampai saat ini. Menjadi orang yang cukup sabar untuk mendengar semua keluhan-keluhan saya setiap hari, walaupun tak jarang kau mengeluh untuk menyuruhku diam dan tak berbicara padamu (tapi itu tak berpengaruh sama sekali,haha). Terima kasih juga karena menjadi orang yang selalu ada saat masa-masa kritisku dulu. Terima kasih sudah menemani saya dari jam 11 malem sampai adzan subuh karena hape hilang. Terima kasih sudah mengajak keliling Surabaya untuk melihat lampu-lampu malam karena saya lagi galau. Terima kasih sudah menjadi agen transfer ketika uang di atm tidak bisa diambil. Terima kasih sudah mengajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah saya datangi, meskipun cuma sekitar Surabaya doank sih, haha. Terima kasih sudah menjadi teman di perpustakaan selama berjam-jam saat tugas menumpuk. Terima kasih sudah mau nganter pulang ke kosan kalau pas saya lagi bawa laptop dan buku banyak. Terima kasih sudah nganter beli tiket dan antri berjam-jam sambil wifi-an di stasiun. Terima kasih sudah meminjamkan saya buku-buku untuk bahan tulisan. Terima kasih telah menjadi inspirator saya untuk mulai menulis. Terima kasih sudah menjadi editor kata-kata saya yang sering salah ucap. Terima kasih sudah menjadi patner berbahasa inggris walau agak belepotan ngomongnya. Terima kasih sudah jadi temen jalan-jalan di mall meskipun pulang cuman bawa mangkuk Daiso doank. Terima kasih karena selalu mengatakan “Jare wes move on, tapi jek galau ae” setiap saya curhat. Terima kasih karena selalu membuat “Critics on Windi” setiap hari yang buat saya sadar sedikit demi sedikit.
Mungkin terlalu banyak kata terima kasih, tapi sebenarnya masih banyak ucapan terima kasih yang harus tertulis bersama dengan cerita-cerita konyolnya. Kemarin, kau mengatakan, “mungkin kau bukan tipe orang yang mengingat kebaikan orang lain, win”… hahaha. Bukan seperti itu, hanya saja terlalu banyak kebaikan yang sudah kau lakukan hingga tak bisa mengingatnya satu persatu.
Hari ini, besok, dan seterusnya saya berharap kau tetap menjadi teman yang baik. Meskipun tidak selalu kemana-mana harus bersama, sependapat, saling memuji, traktir makan, jalan bareng, atau apapun itu. Saya berharap kau tetap menjadi teman terbaikku dan bertemu di panggung sukses nantinya. Dan tetaplah mengatakan “Critics on Windi” sebelum aku bisa dan menemukan cara untuk mengatakan “Critics on Adien”.
Selamat ulang tahun kawan, tetaplah menjadi seorang Adien yang saya kenal.
Mojokerto, 15 Januari 2015

Categories: Story | 2 Komentar

TANGAN INI

Ada sedikit cerita dengan tangan ini, mungkin cerita sederhana, malah sangat biasa. Tapi entah kenapa aku ingin menulisnya disini.

##

Created by me

Created by me

Sudah beberapa bulan aku tak pernah berhubungan lagi dengannya , hanya melalui timeline sosial media yang kadang-kadang muncul akun miliknya. Aku sempat memiliki kenangan dengan dia, tapi hanya sebentar dan mungkin saja hanya bercanda, entahlah. Dia seorang laki-laki, tampan aku akui, humoris, kadang juga menjengkelkan. Aku masih ingat foto wajah menyebalkan yang ia kirimkan padaku dulu. Ahh,, tapi itu sudah menjadi kenangan, harus dilupakan tapi susahnya minta ampun. Kadang ketika aku merasa kesepian, aku ingin kembali kepada cerita yang lalu, saat aku masih bisa bergurau dengan dia.

Tapi, itu tak mungkin. Kesempatan itu seakan sudah menjauh dariku, menutup jalanku untuk mendapatkannya. Lalu suatu waktu, dia menghubungiku, entah itu apa, tapi saat itu memang aku sedang memikirkannya. Dia mengirim sebuah pesan padaku melalui akun media sosialnya, mengirim foto tangannya. Dia mengatakan tentang tangan itu, bercerita bahwa kukunya sedang rapi. Aku tertawa membacanya, tapi sedih merasakannya.

Sedih, iya sedih. Aku hanya bisa melihat dirinya melalui sebuah foto, padahal dulu aku berharap untuk bisa memegang tangan ini. Harapan kosong sepertinya. Hari-hari berlalu, dan malam itu aku teringat lagi dengannya, tidak hanya ingat melainkan juga rindu. Aku merindukan suara dan guyonannya yang terkadang membuatku tak bisa berhenti tertawa. Lalu aku teringat dia pernah mengirim foto tangan ini. Aku mulai menggambarnya, sempat menyerah karena sulit sekali untuk menirukan foto aslinya. Tapi, aku berhasil, walaupun tak sempurna.

Tangan ini, aku berharap suatu saat bisa menyentuhnya untuk yang kedua kalinya, meskipun tak tahu kapan Allah SWT akan mengijinkan. (WU)

Categories: Story | Tinggalkan komentar

MANUSIA – MANUSIA LELUCON

discriminationKenapa manusia itu egois? padahal mereka tidak sendiri. Mereka diciptakan bersama dengan yang lain. Sebuah tubuh-tubuh yang diciptakan bersama perasaan. Masing-masing manusia memiliki semua itu. Tapi kenapa masih ada saja manusia yang mendiskriminasi manusia lain? padahal Dia yang menciptakan tidak pernah mengajarkan makhluknya untuk saling menjatuhkan.

Apakah memang manusia sebenarnya seperti itu? berarti tak salah ketika seseorang mengatakan “Saya tidak percaya pada siapapun, termasuk diriku sendiri”, karena memang dia juga manusia. Saya sedikit heran dengan manusia-manusia yang seenaknya berbicara tanpa menggunakan otaknya terlebih dulu dan berpikir apakah kata-katanya itu layak atau tidak jika keluar dari mulutnya. Apakah manusia tersebut tidak menggunakan persaaannya atau memang tidak memiliki perasaan ? Apakah tak pernah berfikir bahwa mulut mereka lebih tajam dari pada pisau tukang jagal sapi dipasar? Saya semakin tidak habis pikir ketika mereka mengatakan bahwa semua itu hanya lelucon yang patut untuk ditertawakan bersama dengan perasaan orang lain yang dongkol.

Oh God! Damn words I ever hear!!!! -_-

Jika tulisan ini saya teruskan, mungkin akan semakin banyak pertanyaan yang muncul karena ulah mulut manusia. Saya juga manusia, dan mungkin saya juga sering melakukan kesalahan semacam penjelasan diatas. Tapi setidaknya saya masih bisa berpikir bahwa lelucon tidak selalu menjadi barang lucu yang bisa ditertawakan.

Salam Perdamaian!!! 🙂

 

Categories: Opini | Tinggalkan komentar

JEJAK BERBEKAS

image

Hari ini, angin malam menemani dalam diam, sendiri, dan sepi. Mungkin nanti akan hujan, tapi menyenangkan jika memang terjadi. Hujan selalu menjadi hal yang istimewa. Hujan selalu membawa kenangan-kenangan dulu, menghangatkan hati yang dingin. Hujan datang dengan kekuaatannya, mencoba menghapus jejak yang tertinggal. Ya,, jejak yang tertinggal. Seperti jejak seseorang yang pernah berada disini, dalam hati ini. Jejak yang masih terlihat jelas, masih belum benar-benar menghilang, walaupun waktu mencoba mengaburkannya.
Jejaknya tak pernah membiarkan hati ini bersih, ia selalu saja meninggalkan bekas setiap kali hati mencoba untuk membersihkannya. Tetap saja sama, tak ada bedanya, tetap terlihat meskipun berulang kali dilakukan. Hingga hati ini benar-benar lelah, tak bisa untuk memberikan ruang pada jejak baru. Padahal, dia yang meninggalkan jejak sudah benar-benar menghilang. Tak akan pernah kembali, walau ingin.
Hati ini,  membiarkan dirinya masih sama seperti matahari yang terbit dan terbenam. Masih sama seperti saat dia datang, dan dia pergi, tak pernah berubah . Sebenarnya sangat mengganggu, sangat tak nyaman, tapi semakin jejak itu dibersihkan, semakin terlihat mencolok saja.
Pada akhirnya, hati ini memutuskan untuk mengikuti arah angin membawanya, dan mengikuti hujan dimana bermuara. Membiarkannya lelah dan akhirnya membeku bersama dinginnya malam, dan tak merasakan apa-apa lagi, apa-apa lagi…..
Story of tonight. Saturday, December 6th 2014.

Categories: Story | Tinggalkan komentar

JANJI FEBRUARI

februariJanji akan tetap menjadi janji, tak pernah berubah

Meski terkadang janji usang bersama waktu

Aku masih belum menyerah untuk menunggu

Hingga datangnya kesempatan Tuhan

Janji ini mungkin hanya sebuah lelucon

Lelucon agar aku bertahan, atau sebaliknya

Tak ada tujuan yang jelas memang

Hanya sebagai pembuktian untuk diriku saja

Apakah memang ketulusan ini ada atau tidak

Meskipun kenyataan berkata

Janji ini tak akan membawa kembali dia yang telah pergi

Tapi tak apa, karena aku akan tetap sama

Seperti apa yang pernah diminta

Tetap seperti dulu sampai Februari datang

Dan menjawab semuanya.

 

-W_U-

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.